Kamis, 18 Februari 2010

Sinopsis Jumong Episode 15

"Dia sangat hebat." kata Yeon Ta Bal pada So Seo No ketika mereka melihat Jumong berlatih memanah. Jumong berhenti berlatih dan mendekati mereka. "Bukankah Jumong berarti 'Pemanah Legendaris'?"
"Ya." jawab Jumong.
Yeon Ta Bel teringat sesuatu. "Dulu, aku pernah bertemu dengan seseorang yang pandai memanah sepertimu."
"Apa maksud ayah adalah Jenderal Hae Mo Su dari Pasukan Da Mul?" tanya So Seo No.
"Ya." jawab Yeon Ta Bal. "Ketika So Seo No baru dilahirkan, dia menyelamatkan karavan kamu dari serangan bandit. Keahlian memanah Hae Mo Su merupakan anugerah dari langit."
"Beliau adalah guruku." kata Jumong.
"Jenderal Hae Mo Su masih hidup?" Yeon Ta Bal terkejut.
"Benar, tapi beliau sekarang sudah meninggal." ujar Jumong sedih.
"Sayang sekali. Jika waktunya tepat, ia pasti bisa menjadi seorang Raja."
Tiba-tiba Gye Pil datang berlari-lari. "Nona, ada pesan dari istana. Pangeran Dae So mencarimu."
So Seo No melihat ke arah Jumong, lalu berkata pada Gye Pil. "Dia seharusnya datang kesini sendiri."
So Seo No datang menemui Dae So. Dae So memberinya sekotak perhiasan mewah. "Ini adalah simbol hatiku. Aku harap kau mau menerimanya." ujar Dae So.
So Seo No membawa perhiasan itu pulang. Ia bingung dan berpikir.
Jumong mengetuk pintu. So Seo No menyembunyikan kotak perhiasan dari Dae So. Jumong meletakkan beberapa laporan di meja So Seo No, kemudian So Seo No memintanya duduk.
"Aku sama sekali tidak bisa menebak pikiranmu, Pangeran." ujar So Seo No. "Aku mencoba mengerti, namun aku tidak bisa. Bukankah Pangeran Dae So adalah lawanmu kali ini? Kenapa kau begitu tenang. Jika kau laki-laki, jika kau Pangeran yang ingin menjadi Raja kelak, bukankah kau seharusnya memiliki perasaan kuat tentang semua ini? Apa kau benar-benar tidak memiliki ambisi untuk menjadi Putra Mahkota?"
Jumong tersenyum. "Jika aku memang berpikir seperti itu, tetap tidak ada yang bisa kulakukan."
"Apa masalah ini tidak membuatmu merasa marah?" tanya So Seo No.
"Jika marah namun tidak memiliki jalan untuk menyelesaikan masalah, maka semua itu hanya akan menjadi racun." kata Jumong tenang. "Setelah semua yang dilakukan kedua kakakku, aku juga berpikir hal apa yang bisa kulakukan untuk BuYeo. Pangeran Dae So berhasil menyelesaikan konflik dengan Han dan mengembalikan perdagangan garam. Pangeran Young Po berhasil mengamankan ratusan karung garam dari Ok Jo. Kedua kakakku telah memberikan banyak hal, namun mereka tidak menyelesaikan akar dari masalah."
"Apa maksudmu?" tanya So Seo No.
"Saat ini mungkin masalah memang selesai, namun jika suatu saat nanti Han berubah pikiran, masalah ini akan muncul lagi." jawab Jumong. "Jadi intinya, masalah ini masih ada. Jika BuYeo tidak lagi membutuhkan garam dari Han, maka masalah ini dapat terselesaikan."
"Apa kau punya rencana?"
"Tidak." jawab Jumong, menggeleng. Ia kemudian berdiri dan memohon diri untuk pergi.
So Seo No masih berpikir. "Kupikir dia bodoh, ternyata aku salah."
Jumong, Ma Ri, Oyi, dan Hyeopbo menemui Bu Young di tempat Do Chi. Mereka meminta Do Chi membebaskan Bu Young, namun Do Chi menolak. "Dia adalah budakku. Jika kau ingin membebaskan dia, maka kau harus membayar." kata Do Chi.
"Berapa?"
"5.000 yang untuknya dan 10.000 yang untuk kedua adiknya." ujar Do Chi. "Aku akan membebaskan dia jika kau memberiku uang itu.
"10.000 yang?! Kau bandit!" teriak Oyi marah.
"Kembali kemari jika kau sudah memiliki uang itu." kata Do Chi.
Jumong menoleh pada Bu Young. "Keadaanku yang sekarang sulit untuk mendapatkan uang itu. Bersabarlah. Aku pasti akan membebaskanmu."
Yeo Mi Eul masih berpikir mengenai patahnya Busur Da Mul. Pangeran Dae So dan Young Po berkata mereka melihat busur itu, sedangkan Jumong kembali sebelum mencapai gua tempat Busur Da Mul berada. Berarti, pelakunya ada diantara Dae So dan Young Po.
Yeo Mi Eul memanggil Young Po agar menemuinya di Kuil Ramalan.
"Ada apa?" tanya Young Po angkuh.
"Kau mengatakan bahwa kau dan Pangeran Dae So pergi ke Gunung Shijo dan memasang tali Busur Da Mul."
"Lalu kenapa?"
"Apa kau mengatakan yang sebenarnya?"
Young Po marah. "Kau menuduh aku dan kakakku berbohong pada Yang Mulia?"
"Busur Da Mul telah rusak." ujar Yeo Mi Eul.
"Rusak? Bagaimana itu bisa terjadi?!" seru Young Po terkejut.
"Pangeran Jumong berkata bahwa ia tidak pernah mendekati Gunung Shijo. Jadi orang terakhir yang menyentuk Busur Da Mul adalah kau dan Pangeran Dae So. Pasti diantara kalian bedua yang merusaknya!"
"Kami tidak merusaknya!" seru Young Po.
"Tidakkah kau tahu bahwa merusak pusaka BuYeo adalah dosa besar? Apa kau mau mengelak?" tanya Yeo Mi Eul memojokkan. "Busur yang dititipkan pada kami oleh Langit dan Bumi telah rusak. Seseorang harus membayar atas dosa ini!"
"Kami bahkan tidak bisa memasang tali busur. Bagaimana kami bisa merusaknya?" ujar Young Po. "Kakak juga tidak bisa memasang tali Busur Da Mul."
"Jadi, semua itu bohong?" tanya Yeo Mi Eul marah.
"Kami tidak bisa mengakui bahwa kami tidak sanggup memasang tali busur itu." ujar Young Po. "Ini masalah harga diri. Tolong jangan katakan pada siapapun."
Keesokkan harinya, Yeo Mi Eul memanggil Putri Bintang untuk mencari pelaku yang mematahkan Busur Da Mul. Ia membawa Putri Bintang melihat Dae So dan Young Po dari jauh, namun Putri Bintang menggeleng.
Yeo Mi Eul kemudian mengajak Putri Bintang bertemu dengan Jumong. Ketika ia melihat Jumong, entah kenapa tiba-tiba gadis kecil itu pingsan.
Jumong panik karena melihat gadis yang tidak dikenalnya tiba-tiba jatuh dihadapannya.. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Namun gadis kecil itu tidak menjawab dan bergegas pergi.
"Anak yang aneh." ujar Mu Song.

Mu Song dan Jumong mengunjungi istana. Jumong ingin menempatkan Mu Song sebagai bodyguard Mo Pal Mo. Mu Song protes dan marah-marah tidak jelas, namun Jumong tidak mengacuhkannya, malah menoleh pada Mo Pal Mo. "Mulai saat ini, aku akan menghubungimu lewat Mu Song."
"Ya, Yang Mulia." ujar Mo Pal Mo.
Jumong dan orang-orang kepercayaannya (Ma Ri, Oyi, Hyeopbo, Mo Pal Mo, dan Mu Song) berkumpul di suatu ruangan untuk mengadakan rapat.
"Mulai saat ini, apa yang kukatakan, simpan di dalam hati kalian dan rahasiakan semua." kata Jumong. Yang lain saling berpandangan dan menganguk. "Ketika kedua kakakku melakukan hal yang besar demi mendapatkan kedudukan Putra Mahkota, aku hanya berdiam. Namun kini, aku tidak akan diam lagi. Kita harus memulai persiapan."
"Aku akan melaksanakan perintah Pangeran." kata Mo Pal Mo. "Aku akan setia padamu sampai mati."
"Kami juga." sambung Ma Ri tidak mau kalah.
"Karena kalian merasa begitu, kurasa aku akan setuju juga." kata Mu Song. "Tapi persiapan apa yang ingin dimulai? Kenapa kau ingin aku menjaga bengkel pandai besi?"
"Kedua kakakku berusaha keras demi garam. Walaupun garam adalah hal yang penting, namun ada satu hal lagi yang tidak kalah penting, yaitu membuat persenjataan yang lebih baik. Yang Mulia sudah mencari metode pembuatan senjata selama bertahun-tahun."
"Maafkan ketidakmampuanku, Pangeran." kata Mo Pal Mo sedih.
"Kami semua tahu bagaimana kau mengabdikan dirimu." ujar Jumong pada Mo Pal Mo. "Aku ingin menemukan metode pembuatan senjata yang bagus dan kemudian memenangkan posisi Putra Mahkota. Jadi mulai saat ini, kita fokuskan pada pembuatan senjata."

Geum Wa bertanya pada Utusan Istana apakah ia telah menemukan pelaku perdagangan senjata ilegal ke Ok Jo. Ia memerintahkan agar terus berusaha mencari pelaku itu karena ia ingin melenyapkan pelaku perdagangan ilegal.
Dae So merasa Utusan Istana tidak akan berhasil menemukan pelakunya, maka ia berniat mengambil alih tugas ini.
Sayong menyuruh Hyeopbo menemuinya. Dengan basa-basi, ia bertanya pada Hyeopbo apakah sulit hidup di lingkungan para pedagang. Bila Hyeopbo merasa sulit, ia harus memberi tahu Sayong. "Kau sangat mirip dengannya." Sayong kemudian berkata, menatap Hyeopbo.
"Aku mirip dengan siapa?" tanya Hyeopbo.
Sayong tersenyum, kemudian berkata, "Kudengar kau penasaran, apakah aku ini laki-laki atau perempuan."
Hyeopbo merasa tidak enak. "Aku... aku hanya bertanya..."
"Aku... adalah perempuan dan laki-laki." ujar Sayong ringan. Hyeopbo terkejut setengah mati. Sayong melanjutkan dengan sedih, "Aku lahir dengan kondisi seperti ini, dan orang lain menganggap aku monster. Pernahkah kau membayangkan hidup sebagai budak dan tidak dianggap manusia?"
Hyeopbo ikut bersedih, merasa prihatin pada Sayong.
"Sebelum aku bertemu dengan Kepala Klan, ada seorang laki-laki yang membebaskan dan membesarkan aku. Kau mirip dengan laki-laki itu." kata Sayong. Ia menatap Hyeopbo. "Pandanganku padamu saat ini adalah sebagai seorang wanita."
Hyeopbo terkejut, tidak tahu harus bilang apa. Ia kemudian keluar. Ma Ri dan Oyi langsung berlari menghampiri.
"Apa yang ia katakan?" tanya Ma Ri penasaran.
"Ia mengatakann bahwa ia menyukaimu, kan?" tanya Oyi.
"Kalian!" seru Hyeopbo. "Kalian tahu, dia adalah orang yang sangat malang." Hyeopbo berjalan pergi sambil menghela napas. Teman-temannya bingung.

Mo Pal Mo mencari Yeon Ta Bal untuk menanyakan metode untuk membuat pedang.
"Dalam sebuah perundingan, ada yang memberi dan ada yang menerima." kata Yeon Ta Bal. "Jika aku membantumu, apa yang bisa kau lakukan untukku?"
"Aku akan memutuskan setelah mengetahui informasi darimu. Apakah berguna untukku atau tidak." kata Mo Pal Mo. Yeon Ta Bal menolak. Ia tidak bisa menyetujui transaksi semacam itu. Ia kemudian memberikan sebuah belati untuk Mo Pal Mo. "Aku mengenal seorang ahli pedang dari Han. Ia memberiku belati ini. Kau boleh memilikinya."
Mo Pal Mo mengamati belati itu dengan seksama, sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang dikatakan Yeon Ta Bal adalah kebohongan belaka.

Dae So menyusup ke rumah Do Chi bersama pasukannya. "Siapa yang memberimu senjata dari bengkel pandai besi?" tanya Dae So.
Mulanya Do Chi tidak mau mengaku, namun Dae So mengancamnya hingga akhirnya ia buka mulut. "Pangeran Young Po dan Utusan Istana." jawab Do Chi.
Dae So bergegas kembali ke istana dan memanggil Young Po serta Utusan Istana. "Mengapa kalian melakukan ini!" Dae So memarahi mereka berdua.
"Kami melakukan ini untuk kakak." kata Young Po.
"Benar. Kami berpikir, jika ingin menang dalam kompetisi Putra Mahkota, maka kau harus memiliki uang." ujar Utusan Istana.
"Cukup!" teriak Dae So. "Kau ingin aku mati bersama kalian?! Aku tidak pernah meminta hal semacam ini! Apa kalian tahu hinaan seperti apa yang telah diterima Yang Mulia, BuYeo dan aku karena Yang Jung?"
"Maafkan aku, Kakak."
"Kita harus melenyapkan siapa saja yang tahu mengenai masalah ini." kata Dae So. "Siapa saja yang tahu selain Do Chi?"
Young Po berpikir.
Mo Pal Mo bekerja di bengkel sampai larut malam. Salah seorang anak buahnya menyerahkan sebuah pedang. Mo Pal Mo mencoba memukulkan pedang itu ke sebuah besi, dan pedang itu tidak patah. Ia terkesan.
"Apa kita harus memberi tahu Yang Mulia?" tanya anak buah Mo Pal Mo.
"Belum!" seru Mo Pal Mo. "Belum waktunya. Jika kita terburu-buru, kita hanya akan membuat Yang Mulia kecewa. Kita harus membuat pedang seperti ini 10 kali lipat. Jadi rahasiakan ini!"
Mo Pal Mo mengajak Mu Song pergi menemui Jumong, ingin menunjukkan pedang barunya. Di perjalanan, tiba-tiba mereka di serang oleh segerombolan orang tak dikenal. Mu Song melawan mereka dan menyuruh Mo Pal Mo lari dan memberi tahu Jumong.
Mo Pal Mo bergegas berlari memanggil Jumong.
Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo terkejut melihat segerombolan orang bercadar mengejar Mo Pal Mo. Mereka segera melawan orang-orang itu, sementara Jumong berlari hendak menolong Mu Song. Mereka menang dengan mudah. Jumong membuka cadar salah satu dari mereka dan terkejut.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Mu Song.
Jumong dan yang lainnya berkumpul di ruangan Jumong. Mereka hanya terdiam, berpikir. Mu Song membuka mulut terlebih dulu. "Ini berarti ada orang yang hendak membunuh Ketua!"
"Aku?!" ujar Mo Pal Mo. "Apa aku terlihat memiliki musuh? Seumur hidupku aku hidup di bengkel pandai besi! Tidak ada alasan seseorang ingin membunuhku!"
Jumong hanya diam, berpikir. Mo Pal Mo menatap Jumong. "Pangeran, apa mungkin...."
Jumong mengangguk. "Aku juga memikirkan hal yang sama." katanya. Tiba-tiba ia bangkit dari duduknya. "Jangan ikuti aku."
"Sepertinya dia tahu siapa pelakunya." kata Oyi. Ia bertanya pada Mo Pal Mo. "Siapa?"
Mo Pal Mo terdiam lama. Mereka menatapnya lekat-lekat, penasaran. "Aku tidak tahu." Gubrak.
Young Po memberitahu Dae So bahwa ia gagal membunuh Mo Pal Mo. Dae So marah dan menggebrak meja. "Bunuh dia segera!" bentak Dae So.
Pelayan mengumumkan kedatangan Pangeran Jumong. Dae So menyuruh Jumong masuk. "Ada perlu apa kemari?" tanyanya.
"Mencuri senjata dari bengkel adalah kejahatan besar." Jumong memulai. "Tapi jika kau membunuh Ketua, bagaimana kalian akan menanggung kejahatan itu?"
"Kau! Beraninya kau berkata seperti itu pada kami!" teriak Young Po marah.
"Kakak, jika Yang Mulia tahu tentang hal ini, aku tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan kau terima." ujar Jumong mengancam dengan halus.
Young Po hendak meledak marah lagi, namun Dae So menyuruhnya diam dan meminta Jumong melanjutkan.
"Jika kalian bermaksud membunuhku agar aku tidak bicara, maka itu adalah keputusan yang buruk. Akan ada banyak mulut lagi yang harus ditutup." Jumong berkata dengan sangat tenang. "Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal semacam ini lagi. Aku bukan lagi Jumong yang takut karena ancaman kalian. Jika kalian mengancamku, maka kalian yang akan membayar."
Jumong menunduk memberi hormat pada kedua kakaknya, lalu bangkit dari duduknya dan pergi.
"Kakak, aku harus membunuh si bodoh itu!" seru Young Po kesal.
"Diam! Aku tidak ingin melihatmu! Pergi dari hadapanku!" bentak Dae So pada Young po seraya menggebrak meja.

Setelah keluar dari ruangan Dae So, Jumong menemui ibunya. Yoo Hwa terlihat pucat. "Ada apa ibu?"
"Aku bermimpi tentang kakekmu." kata Yoo Hwa.
"Maksud ibu, Kepala Klan Ha Baek?" tanya Jumong.
"Mimpi itu terlihat sangat nyata." kata Yoo Hwa. "BuYeo menghadapi krisis karena garam beberapa saat ini, dan ketika aku hidup di Ha Baek, garam juga menjadi sumber hidup kami. Ketika aku masih kecil, aku mendengar dari ayahku bahwa di Negara Go San, ada sebuah gunung yang dilapisi oleh garam. Ayahku selalu berkata bahwa ia akan pergi kesana, namun dia tidak pernah bisa pergi."
"Garam dihasilkan di negara yang berbatasan dengan laut, seperti Ok Jo." kata Jumong. "Aku tidak pernah mendengar tentang gunung yang dilapisi garam."
"Mungkin ini hanya mitos."

Jumong mulai mencari tahu tentang negara Go San dan keberadaan gunung garam. Ia meminta Mari, Oyi dan Hyeopbo untuk mencari orang yang berasal dari Go San. Sulit menemukan orang yang berasal dari Go San karena negara itu adalah negara yang letaknya sangat jauh, namun akhirnya mereka berhasil menemukan satu orang.

Jumong kemudian menemui So Seo No dan menawarkan sebuah transaksi.

Sinopsis Jumong Episode 14


"Apa aku tidak salah dengar?" kata Hyeopbo pada Oyi dan Ma Ri. "Pangeran ingin bekerja disini?"
"Dia pasti punya tujuan khusus." kata Ma Ri.
"Tujuan?" Oyi berkata kesal. "Dia pasti diusir lagi dari istana."
"Jangan bilang begitu!" seru Hyeopbo.
"Ahh, ini membuat aku gila!" seru Ma Ri. "Jika dia pergi sendiri dari istana, pasti dia tidak punya ambisi menjadi seorang pangeran. Jika dia diusir lagi, pasti dia benar-benar bodoh."
"Terserah bagaimana Pangeran ingin menjalankan hidup di luar istana." kata Yeon Ta Bal. "Namun tidak akan mudah bagi pekerja kami untuk bekerja bersama seorang Pangeran. Tolong mengerti keadaan kami."
Jumong tersenyum. "Aku ingin belajar tentang perdagangan, bukan sebagai seorang pangeran, tapi sebagai pekerja."
"Aku tidak mengenrti." ujar Yeon Ta Bal. "Yang Mulia memberikan kesempatan bagi tiga Pangeran untuk menjadi Putra Mahkota, namun kenapa kau malah berkeinginan menjadi pekerja di perdagangan?"
Itu memang benar." kata Jumong. "Namun aku masih belum pantas menjadi seorang Pangeran. Seperti yang kalian tahu, aku pernah diusir dari istana. Setelah semua itu, aku mulai menyadari bahwa tindakanku dulu sangatlah bodoh. Dan aku juga masih harus banyak belajar. Dengan izinmu, aku ingin belajar tentang dunia dibawah bimbinganmu."
Yeon Ta Bal berpikir. "Ini bukanlah keputusan yang mudah diambil. Beri aku waktu untuk berpikir."
Jumong keluar, membiarkan Yeon Ta Bal dan yang lainnya berdiskusi. Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo langsung berlari mengampiri.
"Pangeran ingin bekerja disini?" tanya Ma Ri. "Apa alasanmu melakukan ini?"
"Apa kau diusir lagi?" tanya Oyi.
"Tidak, aku pergi dengan keinginanku sendiri." kata Jumong.
"Sulit bagimu untuk diizinkan kembali!" ujar Hyeopbo. "Kenapa kau malah ingin pergi?"
"Semua orang punya keinginan sendiri dalam hidupnya." kata Jumong. "Keinginanku bukanlah berada di istana. Mulai sekarang, aku ingin belajar tentang dunia lewat klan ini. Setelah semua yang kalian lakukan sampai sekarang, tetaplah berada di sisiku."
"Alasan kami mendampingimu adalah karena kau punya kemampuan untuk mengubah hidup kami." kata Ma Ei. "Jika kau membuang kesempatan yang ada pasamu sekrang, kau akan menghancurkan hidup kami bertiga juga."
Jumong hanya diam. Ia kemudian menatap Oyi. "Kenapa kau diam?"
"Aku memang tidak berharap padamu." kata Oyi.
Jumong tersenyum. "Maafkan aku. Bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada hidup kalian jika aku sendiri tidak bisa bertanggung jawab pada hidupku. Tapi, semuanya akan berbeda sekarang. Aku akan menjadi orang yang berbeda, untuk ibuku dan guruku. Saat waktunya tiba, aku akan membayar hutangku pada kalian."
Yeon Ta Bal, So Seo No, Oo Tae dan Sayong berdiskusi masalah Jumong.
"Mungkin ia sadar bahwa dia tidak bisa menandingi Pangeran Dae So." kata Oo Tae.
"Terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan." ujar Sayong. "Jika dia adalah orang yang sangat disayangi Yang Mulia, maka akan ada banyak percobaan dan ujian untuknya. Ini mungkin caranya menerima tantangan itu."
"Sayong benar." kata Yeon Ta Bal. "Kita sedang berhubungan dengan dua harimau. Jika kita bisa menjinakkan harimau itu, maka kita akan bisa menunggang di atasnya. Namun bila kita membuat keputusan yang salah, maka kita akan digigit." Yeon Ta Bal berpaling ke So Seo No. "Apa pendapatmu tentang Pangeran Jumong?"
"Terima dia." jawab So Seo No tanpa pikir panjang. "Jika kita menggenggam satu harimau, maka kita akan lebih mudah memilih harimau mana yang akan ditunggangi."
Yeon Ta Bal dan yang lainnya keluar menemui Jumong dan memberi tahu keputusan mereka. "Kami menerimamu sebagai pekerja."
"Terima kasih." ujar Jumong.
"Tapi kami punya satu syarat. Selama kau bekerja di sini, kami tidak akan memperlakukanmu seperti seorang Pangeran."
"Beraninya kau bersikap tidak sopan pada pangeran!" seru Ma Ri.
"Ya." jawab Jumong.

Geum Wa memerintahkan orang untuk mencari tahu keadaan Jumong. Ia kemudian memberi tahu Yoo Hwa bahwa Jumong menjadi pedagang. Walaupun mereka tidak bisa memahami maksud Jumong, namun mereka yakin dan percaya padanya.

Dae So tiba di Hyeon To City menemui Yang Jung untuk merundingkan masalah perdagangan garam yang diputus oleh pihak Han. Namun Yang Jung menyuruh Dae So pergi. Geum Wa-lah orang yang harus datang dan bertemu sendiri dengan Yang Jung.
"Beraninya dia berlaku tidak sopan pada Pangeran BuYeo." kata Perdana Menteri. "Kau harus membuatnya membayar semua penghinaan ini, Pangeran."
"Aku harus menahan penghinaannya." kata Dae So. "Apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah pikiran Yang Jung?"
"Yang Jung ingin Yang Mulia-lah yang menemuinya.Kita harus kembali ke BuYeo dan memikirkan jalan keluar yang lain."
"Tidak. Kita tidak bisa kembali dengan tangan kosong." kata Dae So menolak. "Bagaimana bisa kita bertemu Yang Mulia tanpa menyelesaikan masalah ini?"
Berhari-hari Dae So mencoba datang untuk menemui Yang Jung, namun Yang Jung selalu menolak bertemu dengannya.
Di lain pihak, Young Po, dibantu oleh Do Chi, mencoba mencari jalan untuk menyelesaikan masalah garam ini.
"Jika kita membawa garam dari Ok Jo untuk memenuhi kebutuhan garam BuYeo, dan berkata bahwa ini adalah hasil kerja kerasmu, kau pasti akan akan mendapat pengakuan dari Yang Mulia." kata Do Chi menyarankan.
"Bodoh!" seru Young Po. "Tidakkah kau berpikir Han sudah bersiap dengan kemungkinan itu? Mereka akan melakukan embargo garam di Ok Jo untuk mencegah hal ini!"
Do Chi tertawa licik. "Pangeran, kapan aku bilang bahwa aku akan melakukan itu dengan legal? Walaupun jalan tertutup, selalu ada lubang kecil. Percayalah padaku."

Ye Mi Eul datang menemui Geum Wa. Ia bertanya kenapa Geum Wa tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengannya sebelum membuat keputusan untuk mengadakan kompetisi Putra Mahkota.
"Yeo Mi Eul." ujar Geum Wa. "Jika ada masalah negara, atau masalah yang lainnya, aku tidak akan pernah berkonsultasi lagi denganmu."
Yeo Mi Eul terpukul mendengarnya. "Yang Mulia!"
"Aku mempercayaimu dan berbagi masalahku denganmu. Tapi kau berbohong padaku dan mengurung Hae Mo Su selama 20 tahun serta menyebabkan kematiannya."
"Yang Mulia," Yeo Mi Eul menjelaskan. "Semua itu adalah keinginan Langit demi masa depan BuYeo..."
"Keinginan langit!" teriak Geum Wa marah, memotong kata-kata Yeo Mi Eul. "Jangan bersikap seperti kau tahu keinginan langit! Bagaimana bisa langit menginginkan tindakan sekeji itu? Aku katakan sekali lagi, aku tidak akan berkonsultasi lagi denganmu mengenai masalah apapun. Kau boleh pergi."
Yeo Mi Eul kembali ke ruangannya dan memerintahkan pelayannya memanggil semua peramal ke istana untuk mengadakan rapat.
Jumong mulai bekerja di klan GyehRu. Gye Pil menyuruhnya mengangkat barang-barang ke dalam gudang. Mo Pal Mo yang kebetulan datang melihat itu dan memukul Gye Pil. "Beraninya kau bersikap seperti itu pada Pangeran!" teriaknya marah. Ia mencekik leher Gye Pil.
Jumong keluar, Mo Pal Mo bergegas menghampirinya. "Kenapa Pangeran bekerja di tempat seperti ini?" tanyanya pada Jumong. Ia menunjuk Gye Pil, "Kemari kau! Aku akan membunuhmu hari ini!"
Bertengkarlah Mo Pal Mo dan Gye Pil. Jumong memisahkan mereka, dan menarik Mo Pal Mo pergi.
Mo Pal Mo sedih hingga mukanya merah. "Apa alasanmu melakukan ini?" tanya Mo Pal Mo, menangis.
"Ketua," panggil Jumong, menepuk punggung Mo Pal Mo. "Apa kau percaya padaku?"
"Tentu saja, Pangeran."
"Kalau begitu, jangan katakan apapun dan lihat saja aku." kata Jumong, tersenyum menenangkan. "Kenapa kau ingin menemuiku?"
"Pangeran, kau menyuruhku untuk tutup mulut, karena itulah aku tidak mengatakan tentang Pangeran Young Po. Tapi sampai kapan aku akan diam seperti ini? Sejak Pangeran Young Po dan Utusan Istana memegang wewenang di bidang persenjataan. Aku jadi tidak punya motivasi bekerja. Tolong katakan kebenarannya pada Yang Mulia."
"Jangan." kata Jumong. "Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan mengatakan bila waktunya sudah tiba."
Do Chi memerintahkan Bu Young menyampaikan sebuah surat kepada Yeon Ta Bal.
"Ada perlu apa kau kemari?" tanya So Seo No ketika ia melihat Bu Young datang.
"Aku datang untuk menemui Kepala Klan, Yeon Ta Bal." jawab Bu Young.
"Ada keperluan apa dengannya?"
"Aku bekerja untuk Do Chi. Majikanku memintaku mengantarkan ini." Bu Young memberi surat itu pada So Seo No dan berjalan pergi.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Sayong. "Siapa dia?"
"Kurasa ia adalah gadis yang disukai Pangeran Jumong." jawab So Seo No. Sayong tersenyum penuh arti. So Seo No memelototinya. "Kenapa kau tersenyum?"
"Ekspresimu saat melihat gadis itu sepertinya agak aneh." kata Sayong. "Sekarang aku mengerti alasannya."
"Ekspresiku?" tanya So Seo No.
"Penuh dengan rasa cemburu."
"Apa kau meledekku?" teriak So Seo No marah. Sayong tersenyum.

Oyi melihat Bu Young. "Bu Young!" panggil Oyi senang.
"Apa benar Pangeran bekerja di sini?" tanya Bu Young. "Dimana dia?"
Senyum Oyi langsung hilang begitu Bu Young langsung bertanya soal Jumong. Oyi mengantarnya melihat Jumong. "Apa kau mau menemuinya."
"Tidak." jawab Bu Young seraya berjalan pergi.

Do Chi mengirimkan surat berisikan permintaan pengembalian garam yang telah dicuri oleh So Seo No. "Dia bilang, ia akan memulai perang jika kita tidak mengembalikan garamnya." ujar Yeon Ta Bal.
"Ini bukan waktu yang baik untuk berperang dengan Do Chi." ujar Sayong menyarankan.
"Mengembalikan garam semudah itu tidak akan baik. Itu akan menjatuhkan harga diri kita." kata So Seo No.
"Harga diri?" Yeon Ta Bal menatap putrinya. "Keputusanmu untuk mencuri garam dan kemudian diculik sebagai gantinya, sudah melukai harga diri kita."
"Maafkan aku."
"Katakan pada Oo Tae untuk mengembalikan garam." ujar Yeon Ta Bel pada Sayong.
"Baik." ujar Sayong. "Mungkin ada alasan lain mengapa Do Chi ingin garam di kembalikan. Ini pasti caranya untuk menolong Pangeran Young Po."
Jumong selalu berlatih bela diri bila memiliki waktu luang. So Seo No melihatnya dari jauh dan berjalan mendekati. "Nona."
"Aku punya pertanyaan untukmu." kata So Seo No. "Tolong jawab dengan jujur."
"Apa itu?"
"Kau bilang bahwa kau ingin belajar tentang dunia lewat klan ini. Tapi kenapa kau ingin mempelajarinya? Apa kau bertujuan mundur di saat-saat sulit seperti ini dan kemudian maju untuk mengambil tahta jika saatnya sudah tiba?"
Jumong tidak menjawab.
"Aku bisa membantumu jika kau mau." kata So Seo No. "Jadi tolong jujurlah padaku."
So Seo No menunggu, namun Jumong tetap diam. Ia melanjutkan, "Pangeran Dae So sedang ada di Hyeon To City untuk menyelesaikan masalah dengan Gubernur dan Pangeran Young Po sedang berusaha memenuhi kebutuhan garam. Mereka berusaha keras menyelamatkan BuYeo, namun kelihatannya kau kurang motivasi."
Jumong tersenyum. "Hal apa yang bisa kucapai?" katanya. "Aku tidak memiliki kemampuan apapun. Akan sangat bodoh bila aku mencoba."
So Seo No melihatnya dengan heran. Jumong hanya tersenyum padanya.
"Apa benar ia tidak punya ambisi?" pikir So Seo No ketika ia sudah kembali ke kamarnya. "Jika ia punya, bagaimana ia bisa begitu tenang?"

Yang Jung masih belum bersedia bertemu dengan Dae So. Dae So tidak mau menerima kekalahan begitu saja. Ia akhirnya mencari cara lain.
"Na Ru, aku akan pergi ke suatu tempat. Siapkan segalanya." ujar Dae So.

Jumong meminta Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo untuk menemaninya menemui Mu Song. Ma Ri dengan kesal berkata, "Kau tahu dimana harus menemukan Mu Song, kenapa harus mengajak kami?"
"Ada hal yang ingin kukatakan pada kalian juga." ujar Jumong tenang.
"Kami akan ikut." ujar Hyeopbo. Jumong berjalan terlebih dahulu.
"Kita bukan budaknya, kenapa ia harus membawa kita kemana-mana?" seru Ma Ri kesal.
"Ia bilang ingin bicara pada kita."kata Oyi. "Ayo."
"Apa yang akan kau lakukan di masa depan?" tanya Jumong pada Mu Song ketika mereka sudah berada di sebuah ruangan pribadi.
"Apapun asal bisa makan." jawab Mu Song. Jumong tersenyum. Mu Song melanjutkan, "Jujur, hidupku berantakan karena kau. Kupikir aku akan dapat hadiah, tapi sekarang kau adalah pekerja, jadi itu tidak mungkin lagi. Ini benar-benar tidak adil!"
"Mu Song," panggil Jumong. "Apa kau mau membantu melaksanakan rencanaku?"
"Rencana... Maksudmu?"
"Walaupun sekarang aku sedang tidak di istana, tapi aku akan menjadi Putra Mahkota begitu kembali ke istana." kata Jumong. "Yang Mulia mengadakan kompetisi ini untuk memberiku kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Yang Mulia."
"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Mu Song.
"Aku tidak punya pendukung seperti kedua kakakku. Aku akan menyiapkan sebuah posisi untukmu di istana. Awasi situasi di sana untukku."
Ma Ri kemudian berlutut pada Jumong, diikuti Hyeopbo dan Oyi. Mu Song melihat mereka dan ikut-ikutan berlutut.
"Tolong maafkan pikiran sempit kami." kata Ma Ri. "Kami bersikap tidak sopan pada Pangeran karena kami tidak mengetahui rencana Pangeran. Kami pantas mati!"
"Dimana aku akan ditempatkan?" tanya Mu Song.
"Kau akan tahu setelah sampai di sana." kata Jumong.

Dae So secara diam-diam pulang ke BuYeo. Ia memerintahkan Na Ru untuk masuk ke istana dan membawa Pengawal Geum Wa padanya.
"Pangeran!"
Na Ru mengancam Pengawal Geum Wa dengan pedang.
"Dimana tempat pemakaman sahabat ayahku, Jenderal Hae Mo Su?" tanya Dae So.
"Pangeran, aku tidak bisa mengatakannya. Ini adalah perintah Yang Mulia." ujar si pengawal.
"Aku bertanya demi negara dan rakyat kita." kata Dae So. "Dimana tempatnya?"
"Pangeran..."
"Saat aku menduduki tahta, aku akan memberi penghargaan padamu dan memberimu jabatan yang lebih tinggi. Tapi jika kau tidak menjawab pertanyaanku, kau akan mati di sini. Katakan!"
"Tempat Jenderal Hae Mo Su dimakamkan adalah di Gunung Chun Mu." kata Pengawal.
Dae So memerintahkan Na Ru pergi ke Gunung Chun Mu untuk melakukan sesuatu pada mayat Hae Mo Su, sementara Dae So sendiri pergi ke kediaman klan Gyeh Ru menemui So Seo No.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dae So.
"Yang Mulia!" So Seo No terkejut. "Silahkan duduk."
"Aku diam-diam kemari selain karena harus mengerjakan sesuatu, juga untuk menemuimu." kata Dae So. "Selama ini, aku belum pernah bertemu dengan gadis yang bisa menarik hatiku. Aku harap kau merasakan hal yang sama padaku."
"Aku juga belum pernah bertemu dengan laki-laki secerdas dan sekuat dirimu." kata So Seo No. Dae So senang mendengarnya.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar. "Nona, ini aku, Jumong."
Dae So bertanya kenapa Jumong ada di rumah So Seo No. So Seo No menceritakan bahwa Jumong bekerja sebagai pekerja untuk klan pedagangnya.
Jumong masuk. Ia terkejut melihat Dae So.
"Bagaimana bisa kau melakukan sesuatu yang mempermalukan keluarga kerajaan?" ujar Dae So sinis. "BuYeo sedang berada dalam masalah, tapi apa yang kau lakukan? Apa kau bisa menyebut dirimu Pangeran BuYeo?"
"Aku... berharap bisa membawa kehormatan pada BuYeo suatu saat nanti." kata Jumong, menunduk.
"Kehormatan? Menjadi pekerja bisa membawa kehormatan untuk BuYeo? Kau orang tidak berguna. Keluar!"
Jumong mendongak menatap So Seo No. "Ini adalah daftar barang-barang yang datang hari ini." Jumong berdiri dan keluar dari ruangan itu dengan tenang. Diluar, wajahnya berubah menjadi penuh kemarahan.

Dae So kembali ke Hyeon To City dan membawa sebuah kotak besar. Ia berkata pada pengawal Yang Jung bahwa ia membawa sebuah hadiah. Yang Jung mengizinkan Dae So dan Perdana Menteri masuk.
Pengawal Yang Jung membuka kotak itu dan menjadi sangat terkejut.
"Apa maksud semua ini?!" teriaknya marah. Dae So meminta Yang Jung melihat benda dalam kotak baik-baik.
"Ini adalah kepala Jenderal Hae Mo Su." kata Dae So, menceritakan bahwa Hae Mo Su sebenarnya masih hidup. "Kau bisa membawa kepala ini dan mengatakan pada kaisar Han bahwa kaulah yang membunuh Hae Mo Su."
"Apa yang kau inginkan sebagai gantinya?" tanya Yang Jung.
"Aku tidak ingin ada konflik dengan Han." kata Dae So. "Jika aku menjadi Raja, aku tidak akan berperang dengan Han. Aku akan menghentikan perdagangan ilegal dan pengembangan senjata baru."
Yang Jung tersenyum. "Aku akan membantumu menjadi Raja BuYeo."

Do Chi telah berhasil mengumpulkan banyak garam. Young Po sangat senang dan bergegas melaporkan hal ini pada Geum Wa.
"Aku meminta bantuan salah satu pedagang BuYeo dan melakukan pertukaran dengan negara Ok Jo." kata Young Po dengan bangga.
"Bagus." ujar Geum Wa.
Dae So dan Perdana Menteri tiba. Dae So melaporkan pada Geum Wa bahwa mereka telah berhasil berunding dengan Yang Jung.
"Bagaimana caramu mengubah pikiran Yang Jung?" tanya Geum Wa.
"Aku meyakinkan Yang Jung bahwa perdagangan ilegal dengan Ok Jo dilakukan tanpa sepengetahuan kita." jawab Dae So.
"Yang Jung tidak akan bisa diyakinkan dengan itu."
"Aku berkata padanya jika ia tidak menarik embargo garamnya, maka Yang Mulia akan berperang dengan Ok Jo untuk merebut garam mereka. Yang Jung merasa terancam dengan perluasan wilayah BuYeo. Karena itu, aku mengingatkannya."
"Kau telah mengurangi kekhawatiranku." ujar Geum Wa. Young Po melirik ke arah kakaknya dengan kesal.
So Seo No memberi tahu Jumong mengenai apa yang telah dilakukan Pangeran Dae So dan Young Po. Namun dengan tenang Jumong menanggapi, "Itu berita baik."
So Seo No bertambah heran. "Apa kau tulus?"
"Ya." jawab Jumong seraya mengangkat barang dagangan. "Ini hal yang sangat baik."
"Kenapa kau bilang begitu setelah Pangeran Dae So menghinamu?" tanya So Seo No tidak habis pikir. "Jika aku jadi kau, aku pasti tidak akan bisa tidur memikirkan ini."
Jumong berhenti mengangkat barang dan terdiam sejenak. "Itu masalah sepele." kata Jumong tenang.
So Seo No bertambah bingung. "Dasar bodoh."

Yeo Mi Eul mengumpulkan semua peramal dan mengadakan rapat. Ia berkata bahwa Yang Mulia telah membatasi kewenangan mereka dan ingin menghentikan kewenangan Raja yang makin membesar. "Jika begini terus, kuil kita bisa dihancurkan. Kita harus menggunakan kekuatan langit untuk menghentikan Yang Mulia."
Salah satu peramal mengatakan bahwa ia melihat Busur Da Mul telah rusak. "Ini merupakan pertanda kehancuran negara kita." katanya.

Jumong berlatih memanah. Mungkin keahlian dan kekuatannya dalam memanah merupakan aliran energi yang dialirkan dari Busur Da Mul yang telah ia patahkan.