Jumat, 05 Februari 2010

Sinopsis Jumong Episode 4


Geum Wa: Berikan Pedang! Cepat berikan pedang!
Geum Wa mengacungkan pedang ke arah Jumong. "Beraninya seorang pangeran bermain dengan pelayan dari Divisi Ramalan?! Aku akan memancung kepalamu!
Jumong: Aku tahu aku salah. Maafkan aku, Ayah!
Geum Wa menjatuhkan pedangnya dan berkata dengan nada kecewa, "Jumong, apa kau tidak kasihan pada ibumu?"
Tiba-tiba Yoo Hwa datang dan berlutut di samping Jumong: Jangan biarkan kami membuatmu malu, Yang Mulia. Izinkan kami untuk meninggalkan istana. Sikap anak ini tidak pantas untuk seorang pangeran. Sebagai ibunya, aku malu menghadapi Yang Mulia. Tolong kirim kami keluar dari istana.
Geum Wa: Cukup. Sebagai hukuman karena tidak hadir dalam upacara, Jumong akan diberi 20 pukulan.
Jumong terkejut. Dae So maju dan bicara. "Yang Mulia, 20 pukulan akan membuat dia tidak bisa berdiri berhari-hari. Jumong harus pergi denganku untuk melihat Busur DalMul. Tolong berikan hukuman itu lain waktu.
Geum Wa setuju. Jumong berterima kasih pada Dae So dan Young Po sangat kesal.
Perdana Menteri dan Yeo Mi Eul melihat kejadian itu. "Apa kau masih curiga bahwa ia adalah anak Hae Mo Su?" tanya Yeo Mi Eul. Perdana Menteri menjawab, "Kalau memang dia adalah anak Hae Mo Su, tidak mungkin ia menjadi sangat tidak berguna seperti itu. Mungkin kecurigaanku salah."
Young Po protes pada Dae So. "Kenapa kakak menolongnya?"
Dae So: Jika dia diberi 20 pukulan, dia tidak akan bisa berjalan. Jika ia meninggalkan istana, dia tidak akan bisa kembali.
Permaisuri: Apa maksudmu?
Dae So: Kita harus membawa Jumong keluar agar lepas dari perlindungan Yang Mulia. Jika ia pergi, ia tidak akan pernah kembali.
Jumong bertanya pada ibunya: Apa yang terjadi pada Bu Young?
Yoo Hwa: Dia diberi 10 pukulan dan dikeluarkan dari istana.
Jumong sangat terkejut dan merasa bersalah. "Apa dia bisa bertahan?"
Yoo Hwa: Sekarang kau tahu konsekwensi dari tindakanmu. Besok kau harus melakukan perjalanan untuk melihat Busur Da Mul. Pergilah tidur.
Jumong: Apa itu Busur Da Mul? Kenapa aku harus menempuh perjalanan jauh untuk sebuah panah bodoh?
Yoo Hwa: Busur Da Mul adalah senjata keramat yang digunakan oleh leluhur BuYeo untuk mendirikan negara ini. Pangeran BuYeo harus melihat Busur Da Mul dan menerima energinya. Jika kau tahu kesalahanmu, pergi ke Busur Da Mul dan perbarui lagi hatimu.
Jumong diam. Yoo Hwa berkata agak keras, "Kenapa kau diam? Apa kau takut meninggalkan istana?"
Jumong: Tidak. Tunggu dan lihat saja. Aku tidak akan mengecewakan ibu dan ayah.
Jumong, Dae So dan Young Po bersiap-siap melakukan perjalanan. Mereka dilarang mengungkap identitas asli mereka sebagai pangeran.
Dalam perjalanan, mereka bergiliran memimpin dan menunjukkan jalan. Dae So memimpin, Young Po dan kemudian Jumong. Di tengah hutan, Jumong kesulitan menemukan arah jalan yang benar. Ia berjalan di depan.
Dae So: Apa kau kesulitan menemukan arah?
Jumong: Tidak. Ikuti saja aku. (Jumong berbohong)
Dae So dan Young Po berbalik dan meninggalkan Jumong yang ada di depan. Jumong berjalan beberapa saat. Ketika ia menoleh, kedua kakanya sudah tidak ada. Jumong hendak berbalik, namun tiba-tiba ia terjatuh dari kudanya ke kubangan lumpur hisap.
Jumong terhisap ke dalam lumpur itu. "Tolong! Tolong! Ibu!" teriak Jumong. Namun tidak ada yang mendengarnya. Tiba-tiba dua orang datang dan menyelamatkan Jumong. Orang itu tidak lain adalah So Seo No dan Oo Tae, anak buahnya.
Jumong dibawa ke perkemahan pedagang GyehRu. Bukannya berterima kasih, Jumong malah bertingkah sok kuasa ala pangeran. Jumong diikat dan terpaksa ikut rombangan itu untuk berdagang. Jumong meminta dirinya dilepaskan.
So Seo No: Apa yang bisa kau beri untuk membalas budi?
Jumong: Aku tidak punya apapun saat ini .
Se Seo No: Kalau begitu, aku akan menggunakan tubuhmu sebagai bayarannya. Aku berniat menjualmu sebagai budak.
Jumong: Jangan jual aku. Aku lebih baik menjadi pelayanmu.
So Seo No: Akan kupikirkan.
Rombongan pedagang itu menjual pedang pada prajurit Heng In. Pedang yang dijual adalah pedang baja, yang bisa mematahkan pedang besi milik prajurit Heng In. Prajurit Heng In bertanya harga pedang itu, namun So Seo No memberikan harga yang kelewat mahal. Pemimpin prajurit itu memerintahkan anak buahnya untuk menyerang So Seo No dan rombongannya, namun pihak Heng In mengalami kekalahan. So Seok No meminta Oo Tae untuk membunuh pemimpin itu, namun Oo Tae menolak. "Kurasa lebih baik kau melepas mereka."
So Seo No: Kehormatan lebih penting daripada nyawa. Bunuh mereka. Ini perintah!
Oo Tae: Jika kau mau membunuh mereka, bunuh dengan tanganmu sendiri.
So Seo No: Aku tidak akan menjual barang pada Heng In lagi. Pedang ini akan kami jual ke musuh Heng In, Ok Jo. Pergi!
So Seo No menyuruh Jumong bertarung dengan salah satu anak buahnya. Kalau Jumong menang, ia akan dilepaskan. Jumong bertarung sebisanya. Oo Tae memperhatikan tangan Jumong, yang menurut pandangannya sangat kuat. Sekali tonjok, lawan Jumong langsung pingsan. Walaupun babak belur, Jumong berhasil menang. Ia diantarkan oleh rombongan GyehRu ke Gunung Shijo. Sebelum pergi, Jumong berkata pada So Seo No, "Karena kau mau menyebutkan namamu, maka aku akan memberi tahu namaku. Namaku Jumong. Aku harus menyembunyikan identitasku karena suatu alasan, tapi aku adalah pangeran BuYeo. Ingat aku. Aku menyukaimu. Jika kau singgah di BuYeo, cari aku."
So Seo No: Bodoh.
Dae So dan Young Po sempat kesulitan untuk menemukan jalan ke goa tempat Busur Da Mul berada, tapi akhirnya mereka bisa menemukannya. Mereka melihat Busur Da Mul dan berusaha untuk memasang tali busurnya. Namun busur itu terlalu kuat dan mereka gagal. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke BuYeo.
Jumong berjalan menuju goa dan beristirahat sejenak. Ia mendengar kedua kakaknya bicara. Jumong mencuri dengar.
Young Po: Apa kita akan dihukum karena tidak melindungi Jumong?
Daee So: Kita tidak membunuhnya. Dialah yang membahayakan hidup kita. Sudahlah, jangan membicarakan orang yang sudah mati.
Young Po: Jika kita kembali nanti, kita bisa beristirahat dengan tenang. Aku ingin melihat wajah Lady Yoo Hwa ketika kita menceritakan kematian anaknya.
Jumong mendengar percakapan mereka dan menjadi shock. Ia menangis, tidak menyangka kalau kedua kakaknya menginginkan kematiannya. Jumong meneruskan perjalanan ke Panah Da Mul.
Dengan sedikit (agak banyak sih, tepatnya) kesulitan, Jumong akhirnya berhasil mencapai Busur Da Mul. Ia mengambil panah itu dan mencoba memasang tali busurnya. Jumong berhasil memasang tali busur itu dengan sangat mudah. Jumong mencoba untuk meregangkan busur, namun tiba-tiba busur itu patah.
Dae So dan Young Po sudah kembali ke istana. Mereka memberi tahu Geum Wa dan yang lainnya bahwa Jumong sudah mati. Mereka sudah mencari-cari Jumong kemana-mana, namun tidak ketemu. Yoo Hwa tidak percaya Jumong sudah meninggal. Geum Wa memerintahkan Jenderal Perang, Heuk Chi, untuk memimpin pasukan mencari Jumong. Jika Geum Wa tidak melihat sendiri mayat Jumong, ia tidak akan percaya Jumong sudah mati.
Dae So, Young Po dan beberapa pasukan berangkat dari istana BuYeo untuk mencari Jumong. Belum sempat mereka melewati gerbang utama, mereka melihat Jumong berjalan pelan. Dae So dan Young Po terkejut sekaligus kesal. Yoo Hwa segera berlari menyambut anaknya.

Yoo Hwa: Apa kau pergi ke Gunung Shijo dan melihat Busur Da Mul?
Jumong: Ya
Jumong dan Yoo Hwa dipanggil untuk menghadiri jamuan makan malam untuk ketiga pangeran yang sudah kembali. Ketiga pangeran berdiri di depan Geum Wa.
Geum Wa bertanya pada Dae So, "Apa kau melihat Busur Da Mul?"
Dae So: Iya.
Geum Wa: Apa kau hanya melihat saja? Dari sifatmu, kau pasti mencoba untuk memasang tali busurnya. Apa kau memasang tali busur itu?
Dae So: Ya. (Dae So berbohong)
Geum Wa: Bagaimana rasanya?
Dae So: Dalam hidupku aku tidak pernah melihat busur yang sekuat itu. Busur itu adalah legenda.
Geum Wa berkata, "Bagus." lalu menuang air minum untuk Dae So. Geum Wa berpaling pada Young Po. "Bagaimana dengammu?
Young Po: Kak Dae So bisa memasang tali busur dengan mudah. Aku hanya bisa nyaris memasangnya. Aku tidak bisa sekuat kak Dae So.
Geum Wa: Jumong, bagaimana denganmu?
Jumong ragu sejenak. ia teringat saat dirinya mematahkan Busur Da Mul. Jumong kemudian bersujud dan berbohong, "Maafkan aku ayah. Aku tersesat di hutan. Aku merasa takut dan kembali ke istana tanpa mencapai Gunung Shijo."
Geum Wa merasa kecewa.
Yoo Hwa bertanya marah pada Jumong: Kenapa kau berbohong padaku?
Jumong: Aku tidak berbohong padamu, ibu. Aku melihat Busur Da Mul. Aku bisa memasang tali busur dengan mudah. Tapi ketika aku meregangkan busurnya, busur itu patah.
Yoo hwa terkejut: Busur keramat... patah?
Jumong: Aku sangat takut karenanya. Terlebih aku takut pada kedua kakakku. Aku tidak tersesat, tapi kakak-lah yang meninggalkan aku agar mati.
Jumong meneteskan air mata. "Mematahkan Busur Keramat adalah kejahatan besar. Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu di depan kedua kakak yang menginginkan aku mati? Ibu, apa yang harus aku lakukan?"

Sinopsis Jumong Episode 3

Yoo Hwa terpuruk dalam kesedihan. Salah satu pengawal BuYeo melaporkan pada Geum Wa bahwa Hae Mo Su akan dieksekusi di Negara Han tiga hari lagi. Geum Wa meminta izin pada ayahnya untuk membawa pasukan agar bisa menyelamatkan He Mo Su. Jelas saja raja menolak. "Karena kebodohan Hae Mo Su, rencana peperangan kita hancur berantakan." seru Raja pada Geum Wa. "Aku tidak akan menyelamatkan orang seperti itu. Keluar!"

Perdana Menteri, Bu Deuk Bul, berkata pada Geum Wa, "Lupakan keinginan untuk menyelamatkan Jenderal Hae Mo Su."
Geum Wa marah. "Sahabatku, Hae Mo Su, lebih penting dibanding hidupku sendiri. Walaupun Raja menolah memberikan pasukan, aku akan membawa Pasukan Da Mul yang tersisa untuk menyelamatkan Hae Mo Su."
Perdana Menteri: Alasan pasukan Han berhasil menangkap Hae Mo Su adalah karena ia masuk dalam jebakan. Orang yang membuat kejatuhan Hae Mo Su... Kau tahu siapa? Yang Mulia Raja sendiri. Beliau melakukan ini untuk melindungi Anda dan BuYeo.
Geum Wa sangat marah. Ia menarik pedangnya, hendak membunuh Perdana Menteri, namun mengurungkan niatnya.
Geum Wa membawa Pasukan Da Mul yang tersisa untuk menyelamatkan Hae Mo Su. Geum Wa berhasil membuka kurungan Hae Mo Su, namun Hae Mo Su menolak untuk diselamatkan. "Pergi. Jangan biarkan mereka mati untukku. Aku gagal membalaskan dendam Lady Yoo Hwa dan klan HaBaek. Walaupun aku selamat, aku tidak akan bisa bertarung lagi."
Geum Wa: Kau harus selamat! Kau harus selamat Hae Mo Su!
Geum Wa menolong Hae Mo Su menaiki kuda. Beberapa Iron Army mengejar mereka. Untuk mengalihkan perhatian Iron Army, Geum Wa dan Hae Mo Su berpisah jalan. Namun Iron Army pun berpencar. Mereka berhasil mengejar Hae Mo Su dan menyudutkannya di jurang. Mereka memanah Hae Mo Su. Hae Mo Su, yang buta, tidak tahu kemana harus melangkah sehingga ia terjatuh di sungai.
Beberapa bulan kemudian, Lady Yoo Hwa melahirkan seorang putra. Di saat yang sama, Yeo Mi Eul mendapat pertanda dan melihat Burung Berkaki Tiga terbang dari matahari BuYeo. Raja Bu Ru sekarat.
Yeo Mi Eul: Apa Hae Mo Su benar-benar sudah mati?
Perdana Menteri: Pasti. Ada apa?
Yeo Mi Eul: Walaupun Burung Berkaki Tiga pergi dari matahari BuYeo, tapi Burung Berkaki Tiga tidak mati, malah terbang dengan kuat. Ada kemungkinan ia akan kembali ke BuYeo.
Perdana Menteri: Hae Mo Su sudah mati. Tidak mungkin ia akan kembali.
Geum Wa menggendong putra Hae Mo Su dan Yoo Hwa dengan penuh kasih sayang.
Geum Wa: Ikutlah denganku ke istana. Anak ini, akan menjadi anakku.
Yoo Hwa menolak: Jika anak ini sudah besar, aku akan menceritakan tentang Hae Mo Su. Aku akan membesarkan anak ini agar seperti Hae Mo Su. Anak ini adalah anak Hae Mo Su.
Geum Wa: Jika mereka tahu ini anek Hae Mo Su, mereka akan mengejar dan membunuhnya.

Geum Wa mendatangi ayahnya. "Yang Mulia, ini Geum Wa. Sebelum Yang Mulia meninggal, aku ingin Yang Mulia tahu satu hal. Hari ini, Lady Yoo Hwa melahirkan seorang putra. Anak ini, adalah darah daging Hae Mo Su. Yang Mulia telah menyebabkan kematian ayahnya. Sejak saat ini, aku akan menjadi ayah anak ini. Aku akan membuat anak ini menyelesaikan apa yang Hae Mo Su belum selesaikan.

Geum Wa mengatakan pada Perdana Menteri bahwa Lady Yoo Hwa telah melahirkan anaknya dan ia akan membawa Lady Yoo Hwa beserta anaknya untuk tinggal di istana BuYeo. Perdana Menteri curiga bahwa anak ini adalah anak Hae Mo Su. Ia meminta Jenderal Bu Yeo untuk membunuh Yoo Hwa dan anaknya.
Yoo Hwa memutuskan untuk membawa pergi anaknya. "Anak ini hanya akan menjadi anak Hae Mo Su. Tidak akan ada orang lain yang bisa menjadi ayah anak ini. Bantu aku, Hae Mo Su" ujarnya. Ia berlari ke hutan. Di saat yang sama, Jenderal utusan Perdana Menteri mengejar mereka.
Jenderal itu melihat Yoo Hwa dan hendak membunuhnya. Hujan tiba-tiba turun disertai petir yang menyambar.
Yoo Hwa: Apa salahku padamu hingga kau ingin membunuhku?
Jenderal: Karena hubunganmu dengan Hae Mo Su, kau dan anakmu harus mati.
Yoo Hwa: Bukankah BuYeo bekerja sama dengan Hae Mo Su, ingin mengalahkan Han? Sebagai Jenderal BuYeo yang seharusnya memihak Hae Mo Su, kenapa kau ingin membunuhku dan anaknya?
Jenderal: Kematian Hae Mo Su dirancang oleh Raja BuYeo. Kami bekerja sama dengan Pasukan Han.
Yoo Hwa terkejut: Ada satu hal lagi... Apa Putra Mahkota tahu tentang hal ini? Apa dia tahu?
Jenderal: Putra Mahkota tidak tahu. Mungkin takdirmu adalah mati disini.
Jenderal itu mengangkat pedangnya ke atas, hendak menebas Yoo Hwa dan anaknya, namun tiba-tiba petir menyambar pedang itu dan membuat Jenderal tersebut mati.
Yoo Hwa berpikir dan mengingat-ingat kata-kata sang Jenderal. Itu membuatnya sangat marah dan akhirnya memutuskan untuk menuju ke istana BuYeo. "Hae Mo Su, kami kembali ke BuYeo yang telah membunuhmu. Aku dan anak ini akan membalaskan dendammu. Apa yang belum sempat dicapai olehmu, akan diselesaikan oleh anak ini." ujarnya dalam hati.
Geum Wa berlari mendatangi Yoo Hwa, dan tersenyum lega.
Yoo Hwa: Anak ini bernama Jumong (yang artinya Legendary Archer). Tolong besarkan anak ini seperti anakmu sendiri, Yang Mulia.
Geum Wa: Selama aku hidup, tidak akan ada yang bisa menyakiti akan ini. Aku akan membantu Hae Mo Su untuk membesarkan seorang pahlawan GoJoSeon.
Dua puluh tahun kemudian.
Geum Wa menjadi raja BuYeo dan Yoo Hwa menjadi selirnya. Ia membesarkan Jumong seperti anaknya sendiri. Geum Wa berperang untuk merebut kembali wilayah GoJoSeon, dan perlahan-lahan wilayah BuYeo meluas.

Satu tahun telah berlalu sejak Geum Wa pergi berperang. Dae So (Putra Mahkota), Young Po (adik Dae So) dan Jumong menyusul Geum Wa untuk ikut berperang. Dae So dan Young Po adalah putra dari Permaisuru Wan Hoo.
Sementara kakak-kakaknya sibuk bicara dengan Geum Wa, Jumong hanya diam. Geum Wa menatap ke arahnya dan bertanya, "Perjalanan kemari pasti berat untukmu. Oh ya, apa ibumu baik-baik saja?"
Jumong: Ya, Yang Mulia.
Saat hanya berdua dengan Dae So, Young Po kesal dan mengomel. "Kenapa ayah tidak menanyakan ibu dulu, tapi malah menanyakan Lady Yoo Hwa? Kakak, apa kau melihat ekspresi di mata ayah saat melihat Jumong? Ayah tidak pernah melihat kita dengan pandangan seperti itu!" omelnya sambil mondar-mandir.
Dae So hanya diam mendengar ucapannya, lalu berkata, "Cukup."
Jumong berjalan dan mengintip perempuan-perempuan pelayan peramal BuYeo. Seorang pelayan berjalan pergi dan Jumong mengikutinya.
Jumong: Bagaimana kabarmu?
Pelayan itu ketakutan: Pangeran...
Jumong: Kau kurusan (Jumong memegang wajah pelayan itu). Kau pasti hidup menderita.
Pelayan: Pangeran...
Jumong: Apa kau tidak senang melihatku? Aku kemari karena ingin bertemu denganmu, Bu Young.
Jumong memaksa memeluk Bu Young.
Bu Young: Pangeran, jangan...
Tiba-tiba terdengar suara terompet, pertanda perang akan dimulai. Jumong berlari menemui Dae So dan Young Po.
Young Po: Kita akan berperang. Kemana saja kau? Cepat pakai baju perangmu!
Jumong: Aku... harus pergi juga?
Young po: Kau pikir untuk apa kita kemari?
Jumong: Tapi aku tidak pernah belajar menggunakan pedang sebelumnya.
Young Po: Kau takut perang? Bagaimana bisa kau menyebut dirimu pangeran BuYeo? Kau membuat malu ayah.
Dae So: Aku tahu kau tidak bisa menggunakan pedang. ayah akan kecewa melihatmu begini. Aku akan melindungimu. Jangan khawatir.
BuYeo pergi berperang.
Geum Wa melihat Jumong tidak bisa bela diri sama sekali. Dae So menyelamatkan Jumong ketika Jumong hampir ditusuk oleh pihak musuh.
Pihak BuYeo memenangkan pertarungan itu.

Wilayah BuYeo makin meluas. Yeo Mi Eul mengusulkan agar BuYeo menghentikan perang agar tidak memicu peperangan dengan Han. Lagipula, akan ada perayaan ucapan terima kasih pada Tuhan kerena memberikan kemenangan pada BuYeo.
Geum Wa: Kita akan kembali ke BuYeo karena akan ada peperangan. Tapi ingat, aku tidak takut berperang dengan Han!

Geum Wa dan Pasukan BuYeo kembali ke istana.
Sekembalinya ke istana, Permaisuri Wan Hoo berdandan karena akan bertemu dengan Geum Wa, namun bukannya menemui permaisuri, Geum Wa malah menemui Lady Yoo Hwa terlebih dahulu. Hal itu membuat permaisuri menjadi sangat marah.
Geum Wa menemui Yoo Hwa: Aku berjanji akan membesarkan Jumong agar ia menjadi pahlawan GoJoSeon. Tapi Jumong yang sekarang terlalu lemah. Mulai sekarang, aku akan melatih Jumong agar menjadi seseorang yang kuat. Mungkin akan menyakitkan untukmu, tapi kau harus bertahan.
Pedagang dari GyehRu, Yeon Ta Bal, memerintahkan putrinya, So Seo No, untuk memimpin rombongan pedagang untuk berdagang pedang. Ini adalah pertama kalinya So Seo No memimpin rombongan tersebut. Kru rombongan agak ragu padanya.
Hari perayaan BuYeo.
Jumong mengintip perempuan-perempuan pelayan peramal BuYeo yang sedang ganti baju. Ia mencari Bu Young dan menariknya ke suatu ruangan. Gelas yang dibawa Bu Young jatuh.
Jumong: Sebelum aku melepaskanmu, kau harus berjanji satu hal. Kau harus sering menemuiku.
Bu Young: Tidak bisa. Aku bisa dikeluarkan dari (divisi) Ramalan Istana. Tolong lepaskan aku.
Jumong: Kau harus janji dulu.
Tiba-tiba penjaga datang ke ruangan itu untu mengecek keadaan. Setelah melihat keadaan di ruangan itu aman, mereka mengunci ruangan itu dari luar.
Jumong dan Bu Young tidak bisa keluar.
Jumong: Ini salahmu! Seharusnya kau berjanji padaku!
Bu Young menangis: Pangeran, aku membencimu. Apa yang harus aku lakukan?
Yoo Hwa khawatir karena Jumong tidak kunjung datang ke perayaan sampai perayaan selesai. Ia memerintahkan orang untuk mencari Jumong. Permaisuri Wan Hoo menjelek-jelekkan Jumong di depan Geum Wa. "Bagaimana seorang Pangeran tidak datang ke perayaan itu?"
Young berjalan dan melihat gelas yang dijatuhkan oleh Bu Young. Ia masuk ke ruangan tempat Jumong dan Bu Young terkurung dan menemukan mereka tertidur.
Young Po: Pangeran Jumong, waktunya untuk kembali.
Jumong terbangun dengan kaget. "Ini bukan seperti yang kau lihat, Kak!"
Ia menemui Geum Wa dan bersujud dihadapannya.
Jumong: Aku hanya ingin bicara pada gadis itu, tapi kemudian pintu terkunci.
Young Po: Anak ini sudah membuat malu keluarga kerajaan. Dia harus dikeluarkan!
Geum Wa berkata pada Young Po: Mundur. (lalu beralih pada pengawal) Berikan pedang! Kubilang berikan pedang!
Geum Wa menarik pedang dan mengarahkannya pada Jumong.

Sinopsis Jumong Episode 2


Iron Army tidak bisa menemukan Hae Mo Su di gubuk itu. Mereka menuduh Yoo Hwa menyelamatkan dan menyembunyikan Hae Mo Su.
Iron Army: Bunuh semua klan HaBaek.
Iron Army menyerang HaBaek, membunuh semua penduduk HaBaek dan membakar klan mereka. Yoo Hwa ditangkap dan hendak dibawa ke Hyeon To City untuk dieksekusi di sana.
Di pelariannya, saat Hae Mo Su sedang minum di pinggir sungai, ia bertemu dengan kaum pedagang dari klan GyehRu dari negara JolBon. Kepala klan itu bernama Yeon Ta Bal.
Yeon Ta Bal: Apa kau pengungsi?
He Mo Su: Benar.
Yeon Ta Bal: Makanlah bersama kami sebelum kau pergi.
Yeon Ta Bal mengajak Hae Mo Su makan bersamanya. Istri Yeon Ta Bal sedang hamil tua. Yeon Ta Bal bercerita pada mereka bahwa ia sedih klan HaBaek telah dihancurkan oleh Iron Army. Hae Mo Su sangat terkejut.
Yeon Ta Bal: Apa kau mengenal seseorang dari klan HaBaek?
Hae Mo Su: Aku pernah singgah di sana beberapa saat.
Yeon Ta Bal: Mereka dibunuh karena telah menyembunyikan Hae Mo Su.
Hae Mo Su: Apakah tidak ada seorang pun yang selamat?
Anak Buah Yeon Ta Bal: Lady Yoo Hwa tidak dibunuh. Ia akan dibawa ke Hyeon To City untuk dieksekusi karena dialah yang menyembunyikan Hae Mo Su.
Melihat gelagat Hae Mo Su yang sangat terkejut, Yeon Ta Bal menjadi curiga.
Geum Wa dan Pasukan Da Mul sampai ke HaBaek dan melihat wilayah itu sudah hancur dan warganya mati. Geum Wa mengetahui bahwa Yoo Hwa ditangkap dan akan dieksekusi di Hyeon To City, dan berniat untuk menolongnya.
Malamnya, Pasukan Da Mul di bawah pimpinan Geum Wa diam-diam masuk ke camp Iron Army dan menyelamatkan Yoo Hwa.
Yoo Hwa diobati oleh Geum Wa. Saat tersadar, Geum Wa bertanya padanya, "Apa benar kau menyembunyikan Hae Mo Su?". Yoo Hwa tidak menjawab. "Aku adalah sahabat Hae Mo Su. Tolong beri tahu aku, apa dia masih hidup?"
Yoo Hwa memberi tahu bahwa Hae Mo Su masih hidup. Geum Wa dan Pasukan Da Mul berhenti mencarinya. "Karena dia masih hidup, dia pasti akan kembali."
Klan HaBaek hendak melakukan perjalanan ke Hyeon To City untuk berdagang. Hae Mo Su berniat ikut dengan mereka untuk menyelamatkan Yoo Hwa. Di perjalanan, istri Yeon Ta Bal mengalami kontraksi dan akan melahirkan. Mereka terpaksa menunda perjalanan dan mendirikan tenda untuk bermalam. Ketika proses melahirkan, klan itu tiba-tiba diserang oleh komplotan bandit. Beruntung ada Hae Mo Su di sana sehingga mereka semua selamat.
Istri Yeon Ta Bal melahirkan seorang anak perempuan. Yeon Ta Bal memberinya nama, So Seo No.
Kelompok pedagang itu melanjutkan perjalanan ke Hyeon To City. Yeon Ta Bal berniat menemui pejabat Han, Tai Shou, untuk menjual barang dagangannya sekaligus menawarkan Hae Mo Su pada mereka. Namun ia mengingat bahwa Hae Mo Su telah menolong rombongan, istri, dan anaknya sehingga pada akhirnya mengurungkan niatnya.
Yeon Ta Bal menemui Hae Mo Su.
Hae Mo Su: Bagaimana perdagangan Anda?
Yeon Ta Bal: Hahaha... Barang ini terlalu berharga sehingga aku tidak ingin menjualnya.
Hae Mo Su: Barang apa itu?
Yeon Ta Bal: Hae Mo Su.
Hae Mo Su terdiam. "Bagaimana Anda tahu?" tanyanya.
Yeon Ta Bal: Aku mengetahuinya dengan melihat ekspresi matamu saat aku menceritakan tentang nasib klan HaBaek. Kau juga ingin ke Hyeon To City untuk menyelamatkan Ladu Yoo Hwa.
Hae Mo Su: Lalu kenapa kau tidak menjualku pada Tai Shou? Kau pasti akan mendapat banyak keuntungan.
Yeon Ta Bal: Kau menyelamatkan rombonganku. Aku menganggap itu sebagai bayaran untuk barang tersebut. Kau harus pergi secepatnya, jika tidak, kau akan membahayakan klan GyehRu.

Iron Army sudah mencapai Hyeon To City, namun tidak membawa Yoo Hwa. Yeon Ta Bal mencari informasi untuk Hae Mo Su. "Aku mendapat informasi kalau Lady Yoo Hwa telah meninggal dalam perjalanan menuju Hyeon To City." kata Yeon Ta Bal pada Hae Mo Su."

Geum Wa membawa Yoo Hwa ke istana BuYeo. Yeo Mi Eul tidak setuju. Ia ingin bertemu dengan Geum Wa.
Yeo Mi Eul: Kenapa Yang Mulia membawa putri klan HaBaek kemari?
Geum Wa: Seluruh klannya sudah dihancurkan oleh Han. Aku hanya ingin melindunginya dibawah BuYeo.
Yeo Mi Eul: Keputusan itu diambil oleh BuYeo atau oleh Yang Mulia? Apa Yang Mulia jatuh cinta pada Lady Yoo Hwa?
Geum Wa: Kau selalu bisa membaca pikiranku. Jadi aku akan jujur padamu. Aku menikah dengan istriku karena paksaan. Belum ada yang bisa membuat hatiku tertarik, namun sejak pertama kali bertemu dengannya, aku langsung tertarik padanya.
Yeo Mi Eul: Kau harus mendengar nasehatku baik-baik. Aku memberi tahu ini sebagai Yeo Mi Eul yang dulu pernah mencintai Yang Mulia. Lady Yoo Hwa tidak boleh berada di dekatmu.
Namun Geum Wa memutuskan tidak akan mendengarkan nasehat Yeo Mi Eul.
Hae Mo Su telah kembali ke persembunyian Pasukan Da Mul. Geum Wa langsung menuju ke sana untuk menemuinya. Geum Wa meminta Hae Mo Su ikut dengannya ke istana BuYeo untuk menemui ayahnya dan mencari sekutu dari klan lain untuk melawan Han. Hae Mo Su setuju.

Raja Hae Bu Ru bicara dengan Hae Mo Su.
Raja Hae Bu Ru: Jika kau tidak bisa menang, aku tidak akan mau berperang dengan Negara Han. Apa kau bisa menjamin kemenangan kita?
Hae Mo Su: Pertama, alasan GoJoSeon kalah dalam perang adalah karena konflik internal. Tapi sekarang, semua klan dan pengungsi berada dibawah tekanan Han sehingga bisa bersatu untuk tujuan yang sama. Ini alasan kita akan menang. Kedua, Pasukan Han akan pergi jauh untuk berperang. Mereka juga diributkan dengan masalah domestik. Jika Han memutuskan untuk berperang, mungkin akan terjadi kericuhan dan pemberontakan. Ada lagi alasan yang paling penting.
Raja Bu Ru: Apa itu?
Hae Mo Su: Pasukan Han ingin kembali hidup-hidup, sedangkan kita lebih memilih mati dibanding menderita. Yang Mulia, aku bisa menjamin kemenangan di pihak kita.
Raja Bu Ru tertawa, kemudian berkata bahwa ia akan bergabung dengan Hae Mo Su.
Geum Wa kemudian membawa Hae Mo Su menemui Yoo Hwa. Hae Mo Su sangat terkejut melihat Yoo Hwa, dan langsung berlutut dihadapannya. "Aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Tolong maafkan aku." katanya.
Yoo Hwa: Kematian ayah dan klanku, tolong balaskan dendam mereka. Kau harus melakukannya.

Istri Geum Wa, Wan Hoo, memanggil Yoo Hwa untuk mengetahui apakah Yoo Hwa datang ke istana berniat untuk menjadi selir Geum Wa. Yoo Hwa berkata ia sama sekali tidak tertarik. Ia ingin pergi dari istana dan membantu pasukan Da Mul. Wan Hoo kemudian mengirin Yoo Hwa ke tempat persembunyiaan Pasukan Da Mul.
Hae Mo Su membantu Yoo Hwa mengangkat air. "Hidup di persembunyian pasti berat untukmu. Melihatmu seperti ini membuat hatiku sakit." katanya pada Yoo Hwa.
Yoo Hwa: Sejak meninggalkan HaBaek, aku tidak pernah merasakan kedamaian. Arwah ayah dan warga klan yang tidak tenang menghantuiku setiap malam. Tapi sekarang tidak lagi. Mereka percaya bahwa Jenderal Hae Mo Su dan Pasukan Da Mul akan membalaskan dendam mereka.
Hae Mo Su: Aku tidak bisa tenang. Perasaan bersalah ini tidak bisa hilang.
Yoo Hwa: Aku mendengar tentang Jenderal sejak umur 16. Aku mendengar Jenderal berusaha sangat keras untuk menolong pengungsi GoJoSeon. Walau aku belum pernah melihatnya, namun aku melukiskan Jenderal dalam pikiranku, juga hatiku. Jika mungkin, aku ingin sekali membantu untuk mencapai tujuannya. Mengetahui bahwa aku telah menyelamatkan Jenderal, aku sungguh tidak menyesal. Situasi ini adalah jalan takdirku. Tolong jangan merasa bersalah lagi.
Yoo Hwa tersenyum. Hae Mo Su memeluknya. Geum Wa melihat mereka dari jauh.

Malamnya, Geum Wa menemui Yeo Mi Eul untuk bercerita padanya. "Aku tidak akan bisa memenangkan hati Lady Yoo Hwa, karena hatinya sudah menjadi milik Hae Mo Su. Jika orang itu bukan Hae Mo Su, aku akan bertarung dengannya sampai mati. Tapi, itu adalah Hae Mo Su. Untuk Hae Mo Su, aku akan menyerah. Demi Hae Mo Su dan untuk mengalahkan Han, aku bahkan akan menyerahkan nyawaku."

Persiapan untuk peperangan dimulai. Geum Wa dan Hae Mo Su memproduksi senjata, melatih pasukan dan mencari sekutu dari klan-klan lain.
Malam itu, Yoo Hwa bekerja sampai larut malam untuk meruncingkan kayu panahan. Hae Mo Su mendatanginya dan menyuruhnya untuk beristirahat. Yoo Hwa menolah dan ingin terus bekerja. "Nona.." Hae Mo Su menarik tangan Yoo Hwa dan memasangkan sebuah cincin ke jari Yoo Hwa. "Selain benda ini, aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menyatakan perasaanku. Setelah kita menang melawan Han, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Bisakah kau menerima perasaanku?"
Yoo Hwa terdiam. Hae Mo Su memeluknya.

Yeo Mi Eul berbincang dengan perdana menteri.
Yeo Mi Eul: Burung Berkaki Tiga di matahari BuYeo, pasti melambangkan Hae Mo Su. Hae Mo Su hanya memperalat BuYeo untuk membebaskan pengungsi GoJoSeon. Setelah ia berhasil, ia akan mengambil alih BuYeo.
Perdana Menteri: Yang Mulia Raja sudah mengumumkan perang dengan Negara Han. Apa yang harus kita lakukan?
Yeo Mi Eul: Bunuh Burung Berkaki Tiga.
Perdana Menteri: Apa kau punya rencana?
Perdana Menteri dan Yeo Mi Eul menemui Raja Bu Ru.
Perdana Menteri: Jika perkataanku salah, Yang Mulia bisa memenggalku. Xing dan klan yang lain telah setuju untuk berperang. Tapi, apakah mereka ada dibawah kendali Yang Mulia? Mereka ada dibawah kendali Hae Mo Su. Mereka setuju bergabung setelah mendengar nama Hae Mo Su.
Yeo Mi Eul: Pengaruh Hae Mo Su telah melewati BuYeo dan Yang Mulia. Jika ini dilanjutkan, Hae Mo Su akan disebut sebagai pahlawan GoJoSeon.
Perdana Menteri: Setelah Han dikalahkan, Hae Mo Su akan membangun negara baru. Klan-klan akan bersatu dan membangun sebuah negara bersama. Mereka akan menjadi sangat berkuasa. Bagaimana BuYeo bisa mengatasi hal itu? Matahari BuYeo akan lenyap. Jika perkataanku salah, Yang Mulia bisa memenggalku.

Seorang Pasukan Da Mul memberi tahu Hae Mo Su kalau ratusan pengungsi ditangkap dan akan dibawa ke Hyeon To City. Hae Mo Su hendak menyelamatkan mereka, namun Geum Wa ingin persoalan itu diserahkan padanya. Hae Mo Su hanya perlu fokus pada perang dengan Han. Setelah awalnya tidak setuju, Hae Mo Su akhirnya menyetujui hal itu.

Malamnya saat hendak penyelamatan, Hae Mo Su juga berniat pergi. Ia pergi lebih dulu di banding Geum Wa. Perdana menteri memberi informasi yang salah pada Geum Wa sehingga Geum Wa terlambat. Salah satu pasukan BuYeo mengabarkan pada pasukan berkuda Han telah diberi tahu soal penyerangan Hae Mo Su. Mereka hendak menjebak Hae Mo Su.
Pasukan Da Mul dibawah komando Hae Mo Su menyerang pasukan Han dan menyelamatkan pengungsi. Pasukan Han bisa dikalahkan dengan mudah dan mereka kabur. Tiba-tiba, banyak pengungsi keluar dan mendekati Pasukan Da Mul. Para pengungsi itu ternyata adalah pasukan Han yang menyamar. Peperangan terjadi antara pasukan Da Mul dan pasukan Han. Beberapa saat setelah itu, Iron Army datang dan menangkap Hae Mo Su. Pasukan Da Mul mengalami kekalahan, semuanya tewas tanpa tersisa.
Geum Wa datang terlambat. Salah seorang pasukan Da Mul yang sekarat mengatakan bahwa Hae Mo Su ditangkap dan dibawa ke Hyeon To City.
Mendengar itu, Yoo Hwa pergi ke Hyeon To secara diam-diam untuk melihat Hae Mo Su. Hae Mo Su diikat di alun-alun kota. Kedua mata Hae Mo Su sudah dibutakan. "Bukankah kau berjanji akan membalaskan dendamku? Kenapa kau jadi seperti ini? Ini Yoo Hwa."
Yoo hwa mendengar salah seorang warga berkata: Matanya telah dibutakan. Ia akan dibawa ke Negara Han untuk dihukum mati.
Yoo Hwa hendak berjalan menuju Hae Mo Su, namun Geum Wa menghalanginya.
Yoo Hwa menangis: Hae Mo Su buta, ia tidak bisa melihatku. Aku sedang mengandung... anak Hae Mo Su. Aku harus memberi tahu padanya bahwa ia akan memiliki anak.
Geum Wa: Kita harus pergi dari tempat ini. Aku akan menyelamatkannya Hae Mo Su. Aku akan menyelamatkannya walau harus mengorbankan nyawaku.

Sinopsis Jumong Episode 1

Tahun 108 Sebelum Masehi, sebuah negara besar bernama GoJoSeon berusaha menyerang negara Han melewati Pulau Han Ban dan Gurun Liao Dong. Setelah 1 tahun berperang, negara GoJoSeon mengalami kekalahan. Setelah kekalahan itu, Han menduduki wilayah Nak Rang, Jin Beon, Lim Doon, dan Hyeon To City. Sebagian besar warga GoJoSeon terpaksa mengungsi dan melarikan diri dari Han, sebagian lagi bertahan dengan melakukan gerakan pemberontakan. Pemberontakan itu dipimpin oleh Hae Mo Su.


Drama dimulai dengan adanya pertandingan bela diri oleh pejabat dari Han. Pemenangnya akan dibawa ke ibukota Sheng En. Salah satu pria berhasil memenangkan pertandingan, namun tiba-tiba datang seorang pria lain yang menantang pemenang itu. Pemenang itu bersedia melawan pria misterius yang datang, dan bertarunglah mereka. Ternyata, pemenang dan pria misterius bekerja sama untuk membunuh pejabat Han. Mereka berhasil membunuh salah satu pejabat, namun gagal membunuh pejabat tertinggi, Tai Shou. Diantara penonton bersembunyi pasukan pria misterius, yang kemudian bergerak untuk membebaskan tawanan GoJoSeon yang ditahan oleh Han. Pasukan pembebas itu dinamakan Pasukan Da Mul. Pria misterius itu adalah pemimpin mereka, Dae Mo Su, dan pemenang itu adalah Geum Wa, putra mahkota dari BuYeo.


Saat penyerangan, Geum Wa terluka. Hae Mo Su membawanya ke persembunyian Pasukan Da Mul untuk mengobati lukanya. Geum Wa dan Hae Mo Su adalah sahabat karib. Mereka saling mendukung dan melengkapi, seperti saudara kandung.
Raja BuYeo saat itu adalah Hae Bu Ru, yang merupakan ayah dari Geum Wa. Raja menemui pendoa/peramal BuYeo bernama Ye Mi Eul.
Ye Mi Eul: Saat aku berdoa, aku menemukan sebuah pertanda aneh. Di tengah matahari BuYeo, muncul seekor Burung Berkaki Tiga. Burung itu muncul beberapa saat, namun kemudian menghilang. Burung Berkaki Dua melambangkan Yang Mulia Raja dan Putra Mahkota yang akan mewarisi tahta. Muncul satu kaki lagi, namun masih sulit diketahui maknanya.

Bangsawan dari Han memanggil para pemimpin klan untuk datang ke Hyeon To City untuk menghadiri pertemuan. Geum Wa datang sebagai perwakilan BuYeo. Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis cantik, yang bisa menarik perhatiannya. Gadis itu adalah putri kepala klan HaBaek, Lady Yoo Hwa.
Undangan dari pejabat Han ini tidak lain merupakan bentuk ancaman pada klan-klan itu. Han memanggil pasukan berkuda mereka yang dinamakan Iron Army dan juga mengumpulkan para pengungsi GoJoSeon yang berhasil ditangkap disebuah lapangan.
Tai Shou berkata pada para pengungsi: Bagi mereka yang bisa menjatuhkan satu pasukan berkuda, akan dibebaskan.

Han memberi pedang pada para pengungsi. Mereka mengambil pedang itu dengan takut-takut dan berniat melawan sebisa mereka. Apa boleh dikata, Iron Army terlalu kuat dan tidak bisa ditebas dengan pedang biasa. Baju perang dan pedang Iron Army sangat luar biasa dan tidak terkalahkan. Para wakil klan memandang para pengungsi itu dengan kasihan, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Geum Wa hendak berdiri, namun perdana menteri BuYeo melarangnya. "Kendalikan dirimu, Yang Mulia!" katanya.
"Hentikan pembunuhan ini!" tiba-tiba Yoo Hwa berteriak. Ia berdiri dan menghadapi Tai Shou. "Bagaimana bisa Yang Mulia memerintahkan kebrutalan semacam ini? Apa dia pantas disebut Putra Langit?"
Taishou: Beraninya kau menghina Yang Mulia! Kurung dia!
Geum Wa memiliki seorang teman lama bernama Yang Jung, yang sekarang bekerja untuk Han. Ia meminta tolong padanya untuk membebaskan Lady Yoo Hwa. Yang Jung setuju.
Yoo Hwa: Terima kasih sudah menolongku.
Geum Wa: Aku merasa menyesal karena tidak berbuat apa-apa melihat kebrutalan itu. Aku akan mengantarmu pulang ke HaBaek.
Yoo Hwa: Tidak perlu. Aku membawa pengawal.

He Mo Su marah mengetahui bahwa Han membunuh para pengungsi. Ia meminta Geum Wa mempercepat pembuatan senjata di BuYeo untuk Pasukan Da Mul. Produksi pedang yang besar-besaraan membuat perdana menteri BuYeo menjadi curiga. Ia mendatangi Raja Bu Ru dan mengatakan kalau Burung Berkaki Tiga menyatakan adanya pahlawan baru di masyarakat BuYeo, yang tidak lain adalah Hae Mo Su. Untuk keselamatan BuYeo, ia menyarankan untuk membunuh Hae Mo Su. Geum Wa mendengar percakapan mereka dan berniat memperingatkan Hae Mo Su. Namun perdana menteri mengikutinya dan membunuh pembawa pesan untuk Hae Mo Su.
Geum Wa mengaku pada Raja Bu Ru bahwa ia bersahabat dekat dengan Hae Mo Su dan membantunya membebaskan para pengungsi.
Raja: Kita tidak siap untuk berperang. Jika kita berperang, nasib kita akan sama dengan GoJoSeon!
Geum Wa: Kita harus mencari sekutu untuk bertarung melawan Han. Hae Mo Su bisa menyatukan mereka.
Raja: Bagaimana kalau ia mengkhianati kita? Kenapa putra mahkota BuYeo harus tunduk padanya?
Geum Wa berlutut: Dia tidak akan mengkhianati kita. Bukan karena statusku sebagai putra mahkota, Melainkan sebagai sahabatnya. Aku percaya pada Hae Mo Su.
Raja: Apa kau berani mengorbankan nyawamu?
Geum Wa: Ya.
Raja: Jika kau harus memilih antara BuYeo atau Hae Mo Su, mana yang akan kau pilih?
Geum Wa: Aku memilih mati.
Hae Mo Su pergi berperang dengan pasukannya untuk menyelamatkan pengungsi. Namun pasukannya mengalami kekalahan karena kedatangan Iron Army. Hae Mo Su terkena lemparan tombak salah satu Iron Army dan jatuh ke sungai.

Iron Army mencari mayat Hae Mo Su. Mereka tidak akan percaya Hae Mo Su mati jika belum melihat mayatnya. Disisi lain, Pasukan Da Mul, yang dipimpin oleh Geum Wa, juga mencari Hae Mo Su.
Yoo Hwa duduk di tepi sungai. Tiba-tiba ia melihat mayat mengambang di sungai. Ia mendekati mayat itu. Ternyata itu bukan mayat, orang itu masih hidup. Ia menolong orang itu dan membawanya ke sebuah gubuk kecil untuk diobati. Orang itu adalah Hae Mo Su.
Hae Mo Su sadar. Yoo Hwa tidak tahu bahwa orang yang ditolongnya adalah Hae Mo Su. Yoo Hwa sangat mengagumi dan menyukai Hae Mo Su.

Hae Mo Su meminta tolong pada Yoo Hwa untuk memberinya kuda, namun Yoo Hwa meminta Hae Mo Su melakukan sesuatu untuknya sebagai balas budi sebelum ia pergi, yaitu berpura-pura menjadi laki-laki yang dicintai Yoo Hwa. Yoo Hwa dipaksa menikah dengan seseorang oleh ayahnya untuk urusan politik.
Saat berjalan-jalan dengan Hae Mo Su, anak buah ayah Yoo Hwa melihat mereka berdua dan mengira kalau mereka sedang berpacaran. Ia mendengar percakapan mereka tentang luka di lengan pria itu.

Malamnya, Iron Army datang ke wilayah HaBaek dan mencari seorang pria yang terluka lengannya. "Jika ada yang menemukannya, kami akan memberi hadiah. Jika ada yang menyembunyikannya, kami akan membunuh dan menghancurkan klan ini."
Anak buah ayah Yoo Hwa melaporkan tentang pria yang bersama dengan Yoo Hwa kepada kepala HaBaek. Mereka memutuskan untuk melaporkan hal ini pada Iron Army.
Yoo Hwa yang mendengar pengumumam Iron Army langsung berlari ke gubuk dan menemui Hae Mo Su.
Yoo Hwa: Apa kau Hae Mo Su?
Hae Mo Su: Bukan. Kau salah, Nona. Apa yang terjadi?
Yoo Hwa: Iron Army datang ke klan kami. Kalau kami menyembunyikan Hae Mo Su, mereka akan menghancurkan klan kami. Siapa namamu?
Hae Mo Su: Namaku Lee Gan Sang.
Yoo Hwa: Maaf sudah mengganggumu. Beristirahatlah.
Hae Mo Su memutuskan untuk pergi. Sebelum pergi, ia mendengar percakapan Yoo Hwa dengan pelayannya.
Pelayan: Apa yang kau pikirkan, Nona?
Yoo Hwa: Aku sangat berharap bahwa pria yang kuselamatkan itu adalah Hae Mo Su.
Pelayan: Kau bicara apa, Nona? Jika kita menyembunyikan Hae Mo Su, klan kita akan dihancurkan.
Yoo Hwa: Aku tahu klan kita akan dihancurkan. Tapi hatiku berdebar dan berharap bahwa aku menyelamatkan Hae Mo Su.
Yoo Hwa: Apa kau jatuh cinta padanya?

Iron Army sampai di gubuk tempat Yoo Hwa merawat Hae Mo Su. Iron Army tidak menemukannya karena Hae Mo Su sudah pergi.